Di hari minggu ini, seharian penuh saya membaca sebuah buku yang lumayan menarik, sebenarnya ini sudah yang ketiga kalinya, tetapi masih enak dibaca berulang ulang karena jeda bacanya sudah cukup lama sejak tahun 2002 ketika beli buku ini.
Memoar Hario Kecik II menceritakan seorang jendral jaman bung Karno yang sempat ditahan oleh Orde baru ketika dia baru pulang dari Rusia pada tahun 1977, dan dibebaskan tahun 1981 tanpa pengadilan.
Menarik karena buku ini ditulis dengan gaya khas Suroboyoan yang terus terang, apa adanya, cenderung humanis dan menurut saya malah agak cengengesan dan kurang ajar. Saya ambil contoh percakapan dia dengan Dr Subandrio ketika di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo Jakarta.
Pada senja hari dr Soebandrio datang menemui saya. Ia dan Omar Dhani, bekas Panglima Angkatan Udara, adalah penghuni ruangan di bagian belakang dari penjara sejak beberapa bulan yang lalu. Mereka bertetangga dengan jendral Rukman dan Jendral Pranoto yang juga penghuni bagian itu.
Pak Bandrio bersikap genting. Ia mendekati saya lalu berbicara, “Cik, saya ada berita bagus untuk kamu. Kamu tiga hari lagi akan dibebaskan!”
Melihat saya tidak berekasi apa apa dan tinggal tenang saja, ia kelihatan menjadi jengkel, lalu ia berusaha untuk cepat mencari kata kata yang lebih tepat supaya dapat lebih mempengaruhi saya untuk segera berucap.
“Cik kon gak percoyo yo. Aku gak ngarang!” Ucapnya dengan nada tinggi dan dengan bahasa Jawa Timur.( Cik kamu tidak percaya ya, saya tidak mengarang).
Saya tetap tenang, lalu bertanya, “ Sampeyan krungu teko sopo, Aku gak percoyo, aku gak perduli, babah.” (Anda dengar dari siapa, saya tidak percaya, tidak perduli, biar)
Ia memajukan bibirnya dan mejawab dengan setengah marah,”Kon iku ojok goblog goblog, iki sing lapor wongku.” (kamu itu jangan bodoh bodoh, ini yang lapor orang saya).
“Wong sampeyan sopo, onok endi, aku gak percoyo sopo ae, wis pokoke kabeh koyok taek,” jawab saya dengan nada marah. Dalam hati saya ketawa. Pak Ban memegang lengan saya untuk lebih meyakinkan saya atas apa yang ia ucapkan.. (orang anda siapa ada dimana, saya tidak percaya siapa saja, sudah pokoknya semua orang seperti tahi).
“Sing kondo wongku sing tak tempatno nok kantore Adam Malik. Wis tah, rungokno disik Cik, kon lek wis bebas, ojok gawe opo opo disik. Low profil ae, tunggu sampai aku bebas, pemerintah iki mesti mbutuhno aku, ngerti kon. (Yang bicara orang saya yang saya tempatkan di kantornya Adam Malik, sudahlah dengarkan dulu, Cik kamu kalo sudah bebas nggak usah ngapa ngapain dulu, low profil aja, tunggu sampe aku bebas, pemerintah ini pasti membutuhkan saya, mengerti kamu.)
Saya hampir tidak dapat menahan ketawa, Wajah saya dengan sulit dapat saya stel netral,”Mengapa pemerintah perlu sampeyan ?”
Pak Ban mejawab”Kon iku yok opo, mosok kon gak ngerti”(gimana kamu ini, masa kamu enggak ngerti ).
Saya menjawab pendek ,”Gak ngerti “.
Dia dengan wajah keheranan berkata,”Mergane aku pinter Cik.”(karena saya pintar Cik).
Saya tidak dapat menahan geli lagi, Saya tertawa lepas, Rupanya pak Bandrio betul betul tidak mengerti apa yang saya pikir dalam hati pada saat itu. Ia terus melanjutkan,”Lho temenan Cik, Bung Karno biyen menjadikan aku menteri luar negeri dan perdana menteri itu juga karena aku pinter, prasamu mergo opo” (Lho sungguh Cik, Bung Karno dahulu mengangkat saya menjadi menlu dan PM itu juga karena saya pintar, kamu kira mengapa).
Saya masih bertanya dalam hati, mengapa pak Ban perlu perlunya mengarang cerita perkara ada ‘informan’ di di kantor Adam Malik ?
Pak Bandrio pergi meninggalkan saya dengan pikiran penuh pertanyaan. Tak lama kemudian datang Pak Omar dhani, dengan wajah cerah ia bertanya pada saya “ Mas Hario, Pak Ban baru dari sini ya?”
Saya sambil tertawa menjawab,” Iya, ia membawa berita yang saya sudah tahu, Saya dengarkan saja, berlagak seolah olah belum tahu”
Kami tertawa bersama. “Yo ngono kuwi dagelane pak Ban, Bayangken, aku kudu ngemong wong koyo dekne iku luwih soko sepuluh taun. (Ya begitu itu leluconnya Pak Ban, Bayangkan, saya terpaksa merawat orang seperti dia itu lebih dari sepuluh tahun).
Hehehehe kelihatan sekali, jendral satu ini orangnya easy going, khas orang jawa timur, gaya bicaranya seperti ketika cangkrukan jaga ronda malam di kampung, bener bener asal njeplak.
Ada lagi kisahnya yang konyol sekali, menceritakan dia satu mobil dengan Dr Soebandrio ketika masih menjabat, coba baca dibawah ini :
Kami melewati tempat yang namanya Cisalak, ditepi kiri jalan, lebih rendah dari jalan, ada aliran deras aluran irigasi. Tetapi perut saya mulas, rasanya tidak bisa menahan lebih lama lagi, saya harus buang air besar.
Mungkin keadaan itu disebabkan karena pagi pagi saya buru buru berangkat, tidak sempat ke belakang. Mungkn juga apa yang saya makan sebagai sarapan di rumah Pak Bandrio tidak cocok untuk perut saya. Tapi bisa juga saya senewen setelah mendengar pertanyaan tentang penodongan tadi. Bagaimanapun saya minta lepada pak Bandrio supaya berhenti sebentar agar saya bisa buang air.
Bapak menteri dengan marah berkata,” Kamu itu bagaimana, saya ini menteri lho, mosok kamu suruh berhenti. Kurang ajar kamu. Dimana kamu akan ngising. Gendeng kamu Cik. Sini bukan hutan belantaramu Kalimantan! (Hario Kecik saat itu menjabat sebagai Pangdam Kalimantan Timur).
Saya jawab cepat,” Dibawah sana, diparit itu, tidak akan kelihatan oleh orang dari jalan. Berhenti…berhenti…saya tidak kuat lagi menahan. Atau saya ngebrok di sini di dalam mobil.”
Sang menteri cepat cepat memerintahkan sopirnya menghentikan mobil. Saya turun lari ke bawah, menjalankan hajat saya di suatu tempat dari parit dengan air yang mengalir deras, terlindung dari penglihatan orang dari jalan.
Setelah kembali dalam mobil, saya dimaki maki secara jawa Timuran oleh Pak Bandrio. Sopirnya masih mencoba menahan tawa dengan agak takut takut. Tapi saya sendiri dalam hati merasa puas. Inilah suatu momen historis yang spektakuler, pikir saya.
anak saya Amyra tertawa terbahak bahak ketika saya tunjukkan cerita ini.” Siapa sih pa orang ini…kok lucu banget..mirip seperti cerita kita ya pa”
Hehehe..
Dalam hati saya juga berkata tetapi kamu juga tidak tahu kalau eyangmu dulu sport jantung, bolak balik di tanya Kodim perihal kakaknya. ” Dokter, saya dengar jendral Hario pulang dari Rusia dan sempat mampir ke sini…” Pertanyaan yang selalu diajukan berulang ulang, yang kalo salah menjawab maka cerita keluarga kita bisa tidak seperti sekarang ini.




bos bener apa kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ya khan bung ?
he he memang asli lucu….. jadi pingin baca.!!!
wah.. bikin penasaran,
khas suroboyoan dengan bahasa apa adanya, bukankah hal ini menunjukkan fakta dan kejujuran akan sejarah yang telah seringkali dimutilasi? :D
mo ikutan ah… :)
weleh…
he he :P lucu tenan Mas Datyo, Pantesan njenengan yo lucu lha wong ponakane…. thanks
@Yulism
hahahaha gitu ya mbak…memang karakter orang suroboyo dan malang itu sak enake dhewe….
pa’ HARYO kecik salah satu jenderal “mbeling” sukarnois, sama dengan pa ALI SADIKIN cuman beda nasip ajah…
setuju mas…
apa yang dimaksud mbeling? saya tdk setuju itu
Ngudiyono, mas Yon, mbeling ini kalo ada bahasa jawatimuran belum tentu negatif…