Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Agustus, 2010

Menggugat !!

Menjelang upacara kemerdekaan  pagi ini, Soekarno, Hatta, Syahrir, bersama 20 an pemuda sibuk berdiskusi, siapa yang paling cocok menghadap. “Sudahlah tidak usah berdebat, Sukarno saja yang menghadap , dia cocok mewakili kita seperti jaman dulu. “ Kata Syahrir mencoba menengahi diskusi yang meledak ledak. “Benar bung kini saatnya, matahari mulai terik bung ! “ pemuda Sukarni berteriak. “No…berangkatlah” Seperti biasa dengan sabar Hatta mengucap.

 Pemuda Sukarno melangkah tanpa keraguan, pemuda yang seumur hidup membaktikan dirinya kepada rakyat, sama dengan pemuda pemuda lain  yang juga tak gentar berkorban jiwa demi Negara nya ,  perlahan tapi pasti menuju meja panjang dimana   diujungnya duduk pria berpakaian putih bersih.

Assalamu’alaikum…merdeka ! Keinginan kami sudah bulat bung…. tolong sampaikan kepadanya bahwa kami ingin kembali” Suara Sukarno bergetar menahan emosi.

“Hmmmm…” Lembut laki laki berwajah teduh itu menghela nafas.

“Bagaimana mungkin pagi ini kami akan mengucapkan ulang proklamasi kemerdekaan tetapi kemarin  tetangga kita terang terangan menghina martabat kita ? malah mereka sibuk menyanyi yang tidak jelas maksud dan juntrungannya. Malu bung..malu !! Kita harus ganyang Malaysia !!” Meledak suara Sukarno.

Laki laki berwajah teduh itu hanya tersenyum.

 “Apa kita harus menunggu kehilangan pulau Bintan, Sumatera ? kami sudah tidak kuat,  sampaikan…tolong sampaikan bahwa kami ingin kembali”. Kali ini suara Sukarno menurun, memohon dengan sangat.

“Mengapa kalian terus bersikeras dan pantang menyerah ? sudah  puluhan tahun  aku menyampaikan kepada beliau…sudah berapa tumpuk buku dan kertas yang kalian serahkan..tuntutan, pledoi, dan apalagi sampai aku lupa. Tetapi kalian sudah tahu bahwa beliau tak menjawab…”

“Sampaikan sekali lagi…tolong …sekali lagi bahwa kami ingin kembali…kalau perlu buanglah kami  ke dasar neraka menjadi kerak asal kami mendapat kesempatan untuk kembali…” Suara Sukarno kini melemah ..diikuti dengan beberapa isakan para pemuda di belakangnya.

“Baiklah aku coba lagi…” Jawab laki laki berwajah teduh  sambil menulis angka 17.081.945 di kertas papirusnya, jumlah protes selama ini yang sudah disampaikan oleh para pemuda itu, kemudian dengan pelan berjalan menuju tangga .

“Terima kasih bung …terima kasih…merdeka !!!, “Serempak para pemuda berteriak dengan wajah berbinar.

 

 RENUNGAN SEMALAM, UNTUK INDONESIAKU !!

 

Read Full Post »